Monday, March 25, 2019

Mother


My dream is to be a Mother. Maybe it sounds unusual for carefree-dreamy-career-type woman like me they would say, since as far as they know, I have big and several dreams. I want to achieve more and more, and want to do many and beyond. Limiting my dream in being a Mother is just under their expectation. Nonetheless I feel the other way about Mothers.

Mother is the significant role in (not so dramatic) our country. Mother is the primary educator in the family and family is a the basic social institution in our society. Mother is the source of love and happiness, expected to give unconditional positive regard to their children, give them security and support them build their self-esteem, Mothers act as mirror in their children's perpective, especially in early years. They teach not only literacy or numbers but also life lessons and how children perceive the world. All mothers are heroes in their own family, and our society in general, and I want to be one of them.

My dream is watching my kids grow up, with healthy body and healthy mind, believe in what they know (or might) they capable of and love to learn new things and explore the world of skills and knowledge. I want to be that mother. I want to be a Mother.

Friday, August 31, 2018

Selamat Datang di Laboratorium Komputer 106!

Pukul dua lewat dua dua. Aku bertemu mata dengan sesosok lelaki berkemeja putih bercelana abu-abu. Ia langkahkankan kakinya masuki ruangan yang tersusun atas bata bercat putih itu. Aku memperhatikan rambut ikalnya yang legam, kumis tipis terpasang di atas bibir merahnya, kulitnya putih seakan hendak hilang ditelan ruangan, ruang laboratorium komputer bahasa 106 tempat aku dan dia berada pada detik ini. Siapa dia? Tanyaku berbisik pada layar komputer di depanku, layar komputer yang sepertinya keluaran terbaru berdimensi sekitar dua lima belas inchi. Di layar hitam itu tampak bingung mukaku. Layar komputer yang seakan menyadarkanku untuk bermuka tenang. Ah, aku tidak tenang. Entah mungkin karena hari ini hari pertama kuhadirkan ragaku di kelas bahasa ini atau itu karena tatap mataku bertemu dengan matanya dan ratus helai rambut ikalnya. Aku putuskan untuk berfokus pada ruang ini saja, laboratorium komputer 106. Ruangan berukuran kira-kira tujuh kali tujuh meter ini begitu terang disinari oleh para lampu yang terpasang di langit-langit ruangan. Lampu-lampu itu berbentuk silinder panjang dan berjejer membentuk barisan, seperti angkatan mau perang. Selain karena lampu yang relatif banyak, terangnya pun mungkin sebab cat putih yang memantulkan cahaya. Mengingat putihnya ruangan, mataku tergerak pada sosok lelaki berkulit bening itu yang kini duduk dua kursi di serong kanan depanku. Ia tidak membawa tas, hanya secarik kertas dan pena hitam yang berpangku pada jemarinya. Saat kuperhatikan pena, kepalanya pun tergerak ke arahku. Hampir saja aku tertangkap basah mengamati kalau saja aku tidak awas. Aku pun sadar dan mengarahkan pandang ke depan. Terlihat papan tulis berlapis kaca yang cemerlang. Mungkin sebab awal semester hingga papan kaca itu lebih bersih daripada papan kaca yang biasa kutemui. Di depan papan, orang-orang berlalu masuk dari arah pintu yang terletak di samping kiri ruangan dari sudut pandangku. Pintu bercat coklat itu seperti mulut rahim ibu yang mengantarkan anak-anaknya ke dunia kecil ini sekarang. Dunia kecil bernama ruang laboratorium komputer 106. Pukul dua lewat tiga dua. Pengajar belum juga datang. Bosan aku melihat pintu kayu berwarna coklat itu sehingga kulayangkan pandang pada sisi kanan ruangan. Sisi kanan ruangan itu anehnya tidak dihias bata, tetapi sebuah penutup ruang berteralis yang membuatku bertanya ruangan apa atau hal apa yang berada di balik penutup berteralis itu? Mungkin kelas ini dihubungkan dengan ruangan lain sehingga yang berada di baliknya ialah sebuah ruang kelas. Mungkin pula di baliknya ialah gudang tempat penyimpanan barang. Namun bagaimana jika di balik penutup ruangan berteralis bercat putih terang itu merupakan ruang tempat penyimpanan mayat yang hanya tersisa tulang belulang berbau busuk dan kesepian? Imajinasiku melayang. Kudukku meremang. Aku pun semakin tersentak menyadari kursi tempat lelaki berkulit bening itu telah kosong dan sekarang sosoknya berada tepat di sebelah kiriku, memangku dagu dan menatap tajam tapi lembut ke arahku. Aku tersentak dan aku salah tingkah. “Ada apa?”, kataku heran melihat dia melihatku. Ia hanya tersenyum dan memalingkan wajah. Pukul dua lewat empat tiga akhirnya sang penagajar pun menapakkan kaki pada lantai berwarna kelam ruangan 106 ini. Bangku-bangku yang berjumlah kira-kira 25 buah ini pun hampir semua terisi penuh. “Selamat siang!”, ucap sang pengajar membuka kelas sembari menutup pintu bernuansa coklat itu. “Maaf, saya terlambat tadi terdapat rapat mendadak.”, lanjutnya. Tidak lama pintu bernuansa coklat itu terbuka. Masuklah sesosok perempuan bercelana jeans dan berkaus putih dekil dengan kacamata bulat khas Jhon Lennon. Perempuan itu terengah-engah. Ia tahun dengan jelas kalau ia terlambat dari kelas yang dijadwalkan pukul dua siang. “Maaf, Pak.”, katanya masih dalam keadaan terengah mengatur nafas. Kemudian perempuan berambut pendek itu mengarah kepadaku. Lebih tepatnya ia mengarah pada kursi tempat laki-laki berambut ikal di sebelahku berada dan secara tiba-tiba hendak menaruh bokongnya di atasnya. Lelaki itu terkejut. Tapi keterkejutannya kalah oleh keterkejutanku. Keterkejutanku melihat badannya yang berhasil ditembus. Lelaki itu menjadi betul-betul ‘bening’. Sesaat sebelum menghilang, ia tertawa. Seketika pandanganku memburam. Kesadaranku hilang. Terdengar pekikan wanita di sebelah yang kaget melihatku pingsan. Ingin sekali kusampaikan pesan padanya : “Selamat datang awal semester, selamat datang di ruang laboratorium komputer 106! Semoga kau tidak melihat hal yang seharusnya tidak kau lihat!”

Thursday, November 2, 2017

Landed

"The moon has come and it landed on the peak of the green mountain with the field of edelweis surrounded by the ocean of emotions."

Sunday, August 13, 2017

Nawangwulan kepada Jaka Tarub

Malam ini purnama tinggi menghias langit malam tanpa bintang. Purnama begitu terang seakan menghisap seluruh cahaya hingga sekitar jadi gelap, memenangkan langit yang tunduk pun patuh. Namun sekonyong-konyong dari kejauhan tampak tujuh bintang. Bintang – bintang itu meluncur kian dekat menuju daratan. Tujuh bintang itu ternyata merupakan ketujuh kaka-beradik bidadari yang turun dari khayangan. Sinar berpendar ketika ketujuhnya terbang. Malam ini malam purnama, ketika bulan sedang cantik-cantiknya, para bidadari turun untuk nikmati keindahan dan meresapi bening air yang tergoda oleh pantulan sang raja malam. Tujuh bidadari itu begitu rupawan dengan alis bagai semut berbaris, mata bagai sepasang purnama dan bibir bagai merah anyelir. Ketujuhnya terlihat asyik dengan obrolan sambil membiasakan diri pada daratan. Kakak beradik bidadari hendak mandi di telaga tersembunyi, tersimpan di antara pepohonan, di antara ranting dan tenggelam di antara rimba daun daun jati. Satu demi satu menanggalkan pakaian, dan perlengkapan yang disandang. Begitu pun Nawangwulan, si bungsu yang selalu ingin tahu. Malam ini pertama kalinya Nawangwulan singgah ke bumi, melakukan ritual kedewasaan dengan mandi menapak bumi di bawah sinar rembulan. Nawangwulan begitu bersemangat, menyentuh permukaan air telaga yang memantulkan alam sekitar, “ah begini air bumi. Terasa berbeda dari air di khayangan.” Ia tersenyum sambil membasuh muka. Kemudian satu per satu saudara perempuan Nawangwulan memasuki telaga, meninggalkan Nawangwulan yang agak gugup karena begitu bersemangat. “Kemari Nawangwulan,” kakak tertua memberi lengannya sebagai tumpuan Nawangwulan agar tidak jatuh. Ia pun mencelupkan telapak kakinya dan sedikit menyeringai geli, keenam kakaknya tertawa melihat kepolosan Nawangwulan. Akhirnya ia menenggelamkan seluruh tubuhnya, membiarkan permukaan kulit mengecap dinginnya air telaga. Saat Nawangwulan dan keenam kakaknya bermain di telaga, 



Jaka Tarub telah lelah menangisi kepergian seorang wanita yang ia cinta, ibu. Jaka Tarub tidak hanya merasa sepi yang teramat sangat, tapi juga kekalutan. Ketika ibu hendak akan tiada, ia berpesan lirih, pesan yang berdengung di tulang telinga Tarub muda : “Aku ingin kau segera beristri, Tarub. Jangan sampai kau pelihara dirimu dalam kesendirian lebih dari satu kali bulan purnama.” Namun Jaka Tarub tidak sempat menyanggupi permintaan ibunda. Sang Hyang mengambilnya lebih dulu. Seberapa erat Tarub memeluk tubuh ibu, jiwanya tak mampu bersatu raga lagi. Untuk mengusir lara, Tarub beranjak dan membiarkan kedua kakinya berjalan tanpa arah. Walau sungguh amat berbahaya lalu lalang di hutan semalam ini, Tarub tak peduli. Ia tidak tenang berada di dalam desa sepeninggal ibu. Ditambah desas-desus warga yang mengembuskan kabar tak sedap tentang betapa arogannya Tarub, ia tambah tak peduli. Dahulu Jaka Tarub dikenal sebagai lelaki gagah, pintar dan mencintai ibunya. Warga desa berlomba – lomba mengawinkan putri – putri mereka dengan Jak Tarub namun tiada yang berkesan di hatinya. Penolakan itu membuat orang-orang, khususnya petinggi desa sakit hati dan menghembuskan kabar tidak sedap secepat angin gunung : “Tarub yang pintar dan rupawan namun menderita penyakit kelamin yang memalukan.” Bagaimana tidak Tarub berpikir semakin sulit ia menemukan pendamping jika gadis – gadis desa menatapnya dengan bergidik dan kepala miring. Di saat hati Tarub makin berkabut oleh kalut, gendang telinganya menangkap tawa-tiwi renyah. Tawa perempuan. Lalu dengan langkah seribu ia mencari sumber suara sampai ditemukannya telaga dengan tujuh wanita. Melihat cahaya yang berpendar mengelilingi mereka, ia sadar ketujuhnya bukan wanita biasa. Malam itu, Jaka Tarub tahu apa makna jiwa bergelora, darah berdesir. Tidak pernah ia merasa haus dan lapar akan wanita seperti ini. Di sebelahnya terdapat pakaian dan selendang sutra warna merah menyala dengan payet permata harum bunga tujuh rupa. Ia terdorong untuk mengambilnya tapi tiba-tiba sepasang mata menangkap kedua mata Tarub muda. Hampir saja jantungnya loncat. “Ma-maaf,” ucap Tarub kepada pemilik mata sambil menyerahkan selendang kepada empunya. Ia begitu malu hingga mewarnai merah muka sampai telinga. Wanita di depannya tidak bersuara. Ia malah mendorong pelan tangan Tarub dan membuatnya makin erat menggenggam selendang tersebut. “Nawangwulan, tunggu apa lagi? Sebentar lagi cahaya bulan akan menghilang, kita harus segera pulang!” Nawangwulan kemudian berteriak, “Aku tidak dapat menemukan selendangku! Kakak tahu apa yang akan ayahanda lakukan jika aku pulang tanpa selendang menghiasi pinggang. Aku bisa celaka!” Kakak – kakak Nawangwulan saling berpandang resah. “Biar kami bantu mencari..” mendengar itu, Nawangwulan langsung berujar, “..jangan kakak berkorban demi aku. Kakanda sekalian hendaknya tinggalkan aku, pasti akan kutemukan. Aku akan pulang pada purnama mendatang.” Keenam kakak hanya dapat memandang si bungsu gundah. Mereka merasa serba salah : ingin tinggal tapi nanti hukum yang akan mereka lawan. “Akan kupikirkan alasan yang dapat meredam murka ayahanda. Namun kau harus berjanji akan pulang.” kata kakak tertua memeluk Nawangwulan, diikuti saudaranya yang lain. Satu – satu mereka terbang perlahan menuju khayangan, meninggalkan Nawangwulan dengan Jaka Tarub yang menggenggam selendang merah dengan wajah semakin merah. Lalu di antara keheningan hutan, Nawangwulan bersuara, “Aku ingin kau melakukan sesuatu.” 


*** 


Sudah hampir penuh purnama Jaka Tarub mengajari Nawangwulan segala hal tentang manusia dan dunia walau terbatas pada hanya yang ia ketahui. Ia juga mengajarkan keterampilan memasak, menyiangi rumput bahkan berladang pada Nawangwulan. Tidak hanya Nawangwulan tetapi Jaka Tarub pun sedikit diberi pengetahuan megnenai khayangan walau terbatas hanya yang boleh Jaka Tarub ketahui. Keduanya bertukar pikiran dan tidak memedulikan pendapat warga sekitar yang kembali mendengungkan desas-desus melihat Nawangwulan mengisi kediaman Jaka Tarub. Jaka Tarub ialah guru yang baik pun Nawangwulan sebagai murid selalu bertanya dan menjawab apa yang diucapkan Jaka Tarub. Namun tidak untuk tanda tanya yang lebih merupakan penekanan bahwa malam ini akan jadi malam terakhir Nawangwulan di bumi. "Malam ini kau akan pulang?", tanya Tarub. Nawangwulan tidak menjawab. Ia hanya terus mengiris bawang hingga tipis sampai tak sengaja kulitnya pun beradu dengan tajamnya pisau. Ia pun tersentak. Tarub dengan sigap memeriksa jemari Nawangwulan tapi ia tak dapat menemukan luka secuil pun. “Tarub, kau harus ingat. Aku bukan manusia.” Tarub pun tersenyum ganjil. Ia sudah terbiasa dengan Nawangwulan yang berperilaku seperti manusia. Nawangwulan lama yang belum tahu menahu tentang dunia sudah lama ia lupa. Melihat Tarub bermuka pundung, Nawangwulan mengusap kepalanya. Ia menaruh kasihan pada Tarub, seorang lelaki sopan dan rupawan. Selama Nawangwulan tinggal di bumi, tak sedikit pun Tarub menyentuhnya bahkan membiarkan matanya berkelabat lama pada raga Nawangwulan. Dalam hati, Nawangwulan mendoakan hal baik kepada Sang Hyang untuk Jaka Tarub tersayang. 


*** 


Selendang merah telah menghiasai pinggang Nawangwulan, bidadari bungsu yang selalu ingin tahu. Ketika matahari kembali ke paraduan, ia dan Jaka Tarub berangkat ke hutan agar tidak terlambat menemui purnama tinggi. Sebelumnya, Jaka Tarub mengajak Nawangwulan mengunjungi makam ibunda. Ia mengenalkan Nawangwulan pada ibunda yang mungkin akan ia temui nanti di khayangan. Saat memulai perjalanan, Jaka Tarub meminta izin untuk menggengam tangan Nawangwulan dan ia pun mengangguk. Lalu mereka berjalan menyusur hutan lewati semak belukar. Di tengah perjalanan, mereka beristirahat di pondok reot. “Selama ini aku tidak pernah menanyakan alasanmu ingin berada di bumi. Hari ini aku bertanya : mengapa?” Jaka Tarub mencari sepasang mata untuk ditanya. “Bukankah aku pernah bilang padamu, aku jenuh akan kesempurnaan khayangan. Dari atas, aku melihat kalian bersusah dan terjatuh tapi kemudian bangkit dan berusaha. Aku iri dengan ketidaksempurnaan kalian. Kami para makhluk khayangan hanya menjentikkan jari dan segala yang diinginkan langsung berada di hadapan kami. Bayangkan, betapa jenuh hal itu. Dan lagi…” sepasang mata yang tadi dicari Jaka Tarub menjawab balik, “..aku penasaran dengan ketidaksempurnaan manusia yang buta oleh nafsu.” Cepat Jaka Tarub membalas, “Maksudmu?” Nawangwulan tidak mencabut pandangannya dari mata Jaka Tarub.” Kami para makhluk khayangan hanya menyerahkan diri pada sang Hyang, melupakan diri dari hal tabu yang dapat mengganggu cinta kami pada-Nya.” Angin berembus melewati daun-daun pohon jati yang mulai meranggas, Nawangwulan melanjutkan, “..Aku ingin tahu, apakah aku punya hal itu. Yang kutahu, saat kuiintip wanita dan lelaki bercinta, ada desir yang menjalari tubuhku. Apakah itu karena angin malam hingga bulu roma-ku berdiri atau..” Mata Jaka Tarub tak lagi berani mencari sepasang mata. Kini ia sibuk menyembunyikan hal yang ia pikir seharusnya tidak pernah muncul di permukaan. “Namun aku melihat kau tak pernah menyentuhku barang sedikit pun. Aku kira hanya kami yang dapat melakukannya. Kau pria manusia yang langka untuk ditemui.” Nawangwulan kemudian menyadari Jaka Tarub yang tidak lagi biasa. “Jadi kau datang padaku untuk menguji? Diam aku menahan diri untuk apa? Aku tak lagi dapat membedakan antara setan atau bidadari.” Nawangwulan terpukul mendengarnya, tapi ia dapat menangkap ada rasa sesal di hati Tarub. Bukannya marah, ia merasa iba. Betapa ia menyesal membuat Jaka Tarub berpikir demikian tentangnya terlebih saat ia teringat akan Jaka Tarub yang sebatang kara. Ia takut Tarub akan menyimpan segalanya sendirian. Nawangwulan pun mengusap kepala Tarub. Jaka Tarub bergetar. “Tak bisakah kau tinggal lebih lama?” ujarnya seketika. “Kau tahu Tarub, hukum berada di atasku. Satu kali aku berkata tak jujur pada kakanda yang kucinta. Aku tak mau melanggar hukum lebih lagi.” Jaka Tarub kini memandang tajam pada Nawangwulan, “Sebentar tadi kau bilang penasaran dan sebentar lalu kau bilang kau tidak ingin melanggar aturan. Apa sebenarnya yang kau inginkan? Jangan kau biarkan aku larut dalam kebingungan.” Nawangwulan mengernyitkan dahinya, “Aku tak tahu. Aku benar-benar tidak tahu.” Jaka Tarub berteriak kencang mengejutkan Nawangwulan, kemudian ia diam di sudut pondok. Nawangwulan mengusap kepala Jaka Tarub kembali. Ia menangis. Ia mengusap helai – helai rambut legam Jaka Tarub dengan menangis sambil menyanyikan tembang macapat : . Seketika tangan Jaka Tarub bertemu tangan Nawangwulan. Bibirnya pun bertandang pada bibir Nawangwulan. Bendungan yang tadi tampak kokoh, kini hancur membiarkan alirannya deras membasahi belantara hutan hingga masuk ke lorong gua terdalam. Malam itu purnama tinggi memantulkan cahaya pada telaga, tapi Nawangwulan tiada di tempat. Jaka Tarub, pemuda desa yang gagah dan rupawan dan Nawangwulan, bidadari bungsu yang ingin tahu malam itu tidak ada sekat antara keduanya. Yang tidak Nawangwulan ketahui bahwa Sang Hyang mengabulkan doanya agar Jaka Tarub selalu diberikan kebahagiaan untuk hari ini dan hari – hari selanjutnya. Rahasia alam membungkus keduanya dalam pondok beralas tikar saat bulan purnama sedang cantik – cantiknya.

Thursday, July 28, 2016

Selepas Lulus, Terjun dan Terbang lah!

Saya sudah menjadi sarjana. Lepas satu tanggungan orang tua. Saya teringat pada hari H sidang, rabu 29 Juni 2016, begitu buka pintu, berhambur orang-orang menyatakan selamat, termasuk ayah dan ibu. Mereka yang biasanya begitu malas menjamah Depok pun datang untuk merayakan lolosnya saya dari kursi panas. Sampai-sampai, saat mengantar semua tete benge perayaan (selempang, piala, dll.), si Bapak tukar baju dengan batik untuk berfoto denganku di depan tulisan Fakultas Psikologi. Senang saya melihat ia senang. Lucu betul. Malam itu saya tidur dengan nyenyak dan mimpi indah.

Mimpi indah saya tidak lama. Begitu bangun, revisi menunggu untuk dikerjakan, tugas kantor pun harus diselesaikan, dan pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan harus dijawab (atau sekedar dibuat bungkam sejenak). Menyenangkan melakukan semuanya tapi manusia memiliki batasan. Omong kosong jika ada yang menganggap batasan itu tidak ada. Batasan adalah yang membedakan manusia dengan Tuhan. Batasan pula yang membuat segala sesuatu jadi punya harga. Manusia mati karena terbatas waktu, jadi mereka yang sadar itu pun lebih menghargai hidup (namun saya tidak bilang kalau batasan itu tidak bisa ditekan loh ya). Pilihan yang saya ambil pun harus berdasarkan premis tersebut bahwa waktu dan tenaga saya terbatas, jadi mari membuat The BIG Plan.

The BIG Plan sama seperti cita-cita sama seperti visi. Seharusnya ia sederhana, jelas dan mudah ditakar. Saya tidak akan memberitahumu apa tujuan hidup saya karena tentu akan kehilangan seninya. Saya hanya akan menceritakan proses, pertimbangan dan sedikit clue. 

Waktu itu bos saya mengajak ngomong serius. Status magang saya ingin diubah jadi status karyawan. Saya agak deg-deg an dengan proses pertama jadi orang profesional (sebenarnya tidak juga sih, berlebihan sedikit lah). Saya tidak mau salah langkah sehingga jawaban pun saya tunda hingga pekan depan. Selama seminggu tersebut saya buat janji temu dengan senior dan rekan-rekan sebagai bahan pertimbangan keputusan, juga dengan melihat tanda-tanda sekitar (maksudnya pola peristiwa, bukan hal yang keramat ya). Namun tetap, keputusan berada di tangan saya.

Pertimbangan pengambilan keputusan ialah visi, umur (tenggat waktu), karier ke depan dan seberapa sesuai karier dengan potensi. Kurang lebih pembahasannya dari umum-khusus yang berpatok pada visi dan khusus-umum yang berpatok pada minat danpotensi, lalu kemudian rentetan prosesnya akan tergambarkan. Karena di awal saya sudah bilang akan merahasiakan visi, maka visi akan diwakilkan dengan clue, yaitu bertualang, ilmu pengetahuan dan keluarga. Dari ketiga hal tersebut, saya pun menemukan jawabannya. Kemudian dari potensi dan minat saya, hal yang tercetus ialah : interaksi dengan masyarakat, output berupa tulisan, hal-hal yang berkaitan dengan seni, budaya dan dunia pendidikan anak dan remaja serta Indonesia. Dari hal-hal tersebut pun saya menemukan jawaban. Setelah itu, saya mensintesa keduanya hingga terdapat kesimpulan berupa pekerjaan yang sesuai untuk saya. Kemudian, dijabarkan lagi dalam bentuk target yang harus saya lakukan di tiap tahunnya. Setelah itu, saya siap memberikan jawaban.

Pada akhirnya, saya mengambil resiko dengan meninggalkan suatu zona di titik paling aman dan nyaman. Di satu sisi saya bersemangat. Di sisi lain saya harus terus ingat, bahwa di luar zona nyaman merupakan zona pertaruhan : you win or you lose. Tugas saya sekarang yang paling menantang ialah merawat kendaraan berupa konsistensi, daya juang, dan jaringan. Kendaraan tersebut harus cukup baik untuk dapat mengantarkan saya sampai ke ujung perjalanan.

Wass.

Bismillahirrahmaanirrahim.


Tuesday, September 1, 2015

Getir

Aku letih merasa getir
Kuangkat tangan dan melipir
Kulihat segerombolan mereka berlari ke arah sana. Satu titik. Entah kemana. Sebagian dari mereka tertatih, berwajah sedih. Sebagian menyimpul senyum, tampak yakin. Sementara aku masih berwajah keruh. menatap heran akan kesediaan mereka untuk tetap laju dan heran pula pada hentinya langkahku. Barusan aku merasa getir. Getir yang melintir. Ah aku tak tahan.Namun berbalik arah merupakan hal yang mubazir dan langkah ke depan sungguh melelahkan. Baik, biarkan aku rehat sejenak. Sambil terduduk berpeluh aku lihat mereka sudah berpasang-pasang. Waktu menuntun mereka menemukan satu sama lain. kadang waktu pula yang memisahkan dan menjauhkan. Walau nantinya mereka akan bertemu lagi. Mungkin.

Aku perhatikan kembali satu satu. Ada yang bergerak cepat berganti-ganti tempat menebar kotoran seperti lalat yang hinggap seenaknya tanpa malu mengurat. Namun langkahnya kemudian melambat dan ia pasrah, dan ia menerima. lalu ia berjalan lurus. lurus dan damai. Ada pula yang buta dan dituntun dengan baik, tapi ada yang tidak. Yang jelas mereka mengarah ke satu titik, begitu silau hingga tidak ada yang tahu hal apa yang ada setelahnya. Mereka melaju. Segerombolan dalam arus utama, arus terbanyak, sang mayoritas. Baiklah, aku akan berlari atau berlayar. Sebentar lagi. Aku rehat sejenak mempersiapkan peralatanku yang rusak karena termakan getir. Barusan tadi. Getir yang melintir.